Oknum Kepala Desa Bubarkan Pengajian Warga



Karawang, Pantaunews.id - Kepala Desa Lemahsubur, Kecamatan Tempuran melakukan hal yang tidak wajar serta bertindak berlebihan dengan membubarkan jamaah pengajian rutin yang digelar oleh warga di Masjid Jamie Nurul Bayan di DusOknumun Pasir Malang RT 04 RW 02, Desa Lemahsubur, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang.

Informasi yang dihimpun dan keterangan dari warga jamaah pengajian. Aksi pembubaran jamaah pengajian rutin itu terjadi pada Minggu (07/04/2023) malam.

Menurut, Unem salah seorang warga Desa Lemahsubur yang hadir sebagai jamaah pengajian rutin tersebut, menyampaikan bahwa pengajian rutin itu merupakan acara pengajian yang pertama kali diselenggarakan oleh Dewan Kerja Masjid (DKM).

Hanya saja, setelah pengajian berlangsung kurang lebih 10 menit saat ustad Enjang Ridwan Al badri memaparkan materi pengajian, tiba-tiba Kepala Desa Lemahsubur datang ke mesjid dan berdiri ditengah-tengah jamaah dengan melontarkan kata-kata dengan nada tinggi serta membubarkan jamaah.

“Ya memang DKM tuh kemarin mengadakan pengajian pada malam senin, berjalan kurang lebih 10 menit pengajian itu, datang pak lurah ke masjid dengan mengucapkan salam lalu melontarkan kata maaf ke pak ustad, lalu ngomong segala macam lah, pengajian itu tidak ijin lah segala rupa dan pada dasarnya pengajian itu ditutup aja dan yang jelas pengajian itu bubar aja,” kata Unem, Selasa (09/04/2023).


Kemudian, ia juga mengungkapkan untuk tindak lanjut atas kejadian pembubaran jamaah pengajian yang dilakukan oleh kepala Desa Lemahsubur akan berkoordinasi dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat dan Kecamatan Tempuran.

“Tadinya kalau saya sudah ketemu wakil ketua DKMnya, saya mau konfirmasi ke MUI dulu lalu ke kecamatan. apakah benar seorang kepala desa itu boleh memberhentikan pengajian dan saya juga selaku warga dan jamaah merasa malu ketika ada pemimpinan seperti itu, saya sih berharap pak lurah ada itikad baik untuk permohonan maaf ke warga dan jamaahnya, tapi sampai saat ini belum ada tuh permohonan maaf itu,” ucapnya.

Selain itu, ditempat terpisah, Warda salah satu undangan yang hadir dalam pengajian rutin tersebut yang diundang bersama menantunya ustad Enjang Ridwan untuk mengisi pengajian oleh Dewan Ketua Masjid membenarkan bahwa pada saat pengajian berlangsung tiba-tiba Kepala desa datang lalu melontarkan kata-kata yang membuat jamaah merasa heran sehingga membuat pengajian itu bubar.

“Datang lurah Kenji itu, pertama mengucapkan permohonan maaf ke pak ustad. Lalu kemudian mengatakan apakah ini betul pengajian atau pengajian politik, kita kan heran apa yang di maksud pak lurah Kenji, ya kemudian jamaah itu juga pada bubar seperti itu, ya kalau saya mah tidak masalah karena saya mah cuma di undang sama pak Adang,” ujarnya.

Tak hanya itu, menurut keterangan dari warga sekitar masjid Jamie Nurul Bayan itu yang enggan menyebutkan namanya membenarkan ada kejadian ramai-ramai di masjid waktu itu. Hanya saja dirinya tidak mengetahui lebih jelas yang terjadi di masjid tersebut.

“Ya betul, memang waktu itu pas malam Senin ada kejadian ramai-ramai di masjid tapi saya tidak mengetahui jelasnya seperti apa, dan saya tahunya pengajian aja soal dibubarkan atau tidaknya oleh kepala desa itu saya kurang tahu,” pungkasnya. (Joe)


0 Komentar